Blog posts

Kupang: Kemanusiaan mengalahkan stigma

Layanan kesehatan seksualitas dan reproduksi kerap tidak mudah didapatkan jika seseorang belum memegang status sudah menikah, apalagi remaja. Moralnya biasanya dipertanyakan sehingga membuat remaja perempuan merasa malu, putus asa, dan bersalah. Banyak tenaga kesehatan dan tenaga medis menolak memberikan layanan kontrasepsi bagi perempuan yang belum menikah, termasuk temaja. Apalagi aborsi.

Justru, penolakan tersebut kadang membahayakan perempuan.

Walaupun Linda Rae Bennet melakukan penelitian tentang pengalaman perempuan belum menikah yang melakukan aborsi di Lombok, Indonesia Timur pada 2001, situasi tersebut masih tergambarkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Menanggapi situasi tersebut, Amalia—sebagai representatif Women on Web—diundang oleh Instituta Hak Asasi Perempuan (IHAP) dalam acara Pelatihan Pelayanan Ramah Remaja pada 20—21 November 2018. Ia memfasilitasi sesi layanan aborsi aman dan berbagi pengalaman Women on Web kepada penyedia layanan kesehatan dan kasus kekerasan berbasis gender dan seksualitas yang berasal dari Kabupaten Timor Tengah Utara, Kota Kupang, dan Kabupaten Manggarai Barat.

Amalia membuka sesi dengan mengupas lapisan-lapisan hak istimewa setiap orang, seperti abilitas, usia, status pernikahan, akses terhadap internet, ekonomi, sosial-budaya, dan pendidikan. Ini bisa menjadi bekal dalam memberikan layanan kepada perempuan yang hak istimewanya absen. Situasi yang mereka alami seringnya merupakan akibat dari kejanggalan sistem, tidak terkait moral.

Kepercayaan terhadap klien menjadi landasan penting yang mesti terus melekat pada pemberi layanan. Terlepas dari identitas orang-orang yang datang kepada mereka.

Alasan kedatangan mereka pun beragam. Amalia berbagi pertanyaan-pertanyaan yang diterima helpdesk Women on Web sehari-hari. Sebut saja kontrasepsi, konfirmasi kehamilan, juga aborsi aman. Aborsi medis bisa jadi salah satu alternatif dengan menggunakan Mifepristone dan Misoprostol dengan kemungkinan keberhasilan yang lebih tinggi atau bisa juga Misoprostol saja.

Sesi ditutup dengan pertanyaan: “Apa yang bisa Anda lakukan jika berhadapan dengan seorang remaja perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan?”

 

1 orang menyatakan kesediaannya memberikan layanan aborsi aman.

4 orang menyarankan perempuan untuk melanjutkan kehamilan.

10 orang merujuknya kepada pemberi layanan yang bisa membantu, termasuk Women on Web.

20 orang melakukan konseling dan membiarkan perempuan mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.

 

“Saya bersedia menjadi pendamping dalam memberikan layanan aborsi aman.”

 

Sekuat apa pun setigma terhadap perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, ternyata banyak orang bersedia mendampingi mereka.

Debat: Ketika aborsi haram, perempuan mencari cara demi haknya

Hampir 80% perempuan di Timur Tengah dan Afrika Utara tinggal di negara-negara dengan hukum aborsi yang ketat. Isu kesehatan publik.

Women on Web-The Conversation-1.jpg

Banyak perempuan turun ke jalan di berbagai belahan dunia pada 28 September, hari aksi utnuk aborsi aman sedunia sukses dan memberikan tuntutan anyar terkait hak akses terhadap aborsi aman, gratis, dan legal.

Hak akses terhadap aborsi aman terancam di banyak negara, dari Amerika Serikat sampai Polandia, dari Argentina sampai Irlandia, para perempuan masih memerjuangkannya. Agama, khususnya Katolik, sering kali disebut sebagai rintangan utama terkait kontrasepsi dan aborsi. Maka itu, banyak negara dengan mayoritas Katolik mempunyai hukum aborsi yang ketat. Sebut saja Andorra, Republik Dominika, El Salvador, Malta, Nicaragua dan Vatikan merupakan nama-nama yang melarang aborsi tanpa kecuali.

Tapi, bagaimana dengan negara-negara yang dominan Muslim?

Hampir 80% perempuan di Timur Tengah dan Afrika Utara tinggal di negara-negara dengan hukum aborsi yang ketat. Di antaranya, 55% tinggal di negara-negara yang melarang aborsi, kecuali untuk menyelamatkan nyawa ibunya dan 24% tinggal di negara-nergara yang membolehkah aborsi demi keseharan fisik dan mental perempuan. Hari ini, hanya Turki dan Tunisia lah yang membolehkan aborsi elektif (aborsi atas pemintaan). Pun, tidak ada negara di wilayah itu dengan hukum larangan total aborsi, hukum aborsi membatasi ruang perempuan untuk mengakses aborsi aman.

Seperti di mana-mana, aborsi menjadi topik yang sangat kontroversial di negara-negara dengan mayoritas Muslim, seperti yurisprudensi Islam. Bahkan di negara-negara yang melegalkannya, seperti di Turki, aborsi kerap ditantang dan diserang oleh wacara politik dan agama seberang. Serupa juga di Tunisia, selain bingkai hukumnya, perempuan masih melaporkan bahwa mereka dihakimi tenaga medis dan masyarakat untuk mengakses aborsi.

 

Apa yang Islam bilang soal aborsi?

Secara umum, pemuka Muslim mempertimbangkan aborsi sebagai aksi intervensi terhadap peran Allah (Tuhan), satu-satunya penentu kehidupan dan kematian. Namun, perbedaan mazhab Islam mempunyai cara pandang terhadap aborsi yang berbeda pula. Menurut mazhab Hanafi, yang banyak dianut di Timur Tengah, Turki, dan Asia Tengah, dan menjadi dasar hukum selama Kerajaan Ottoman, aborsi dikonsepkan sebagai ıskât-ı cenîn, yang bisa diterjemahkan sebagai pengeluaran fetus.

Awalnya, terminology ini mengaburkan karena tidak membedakan keguguran spontan dan aborsi. Apalagi, dalam mazhab Hanafi, disebutkan bahwa ıskât-ı cenîn adalah mekrouh, artinya tidak diinginkan—bukannya haram (dilarang), sebelum fetus mencapai 120 hari, mengingat fetus belum memiliki jiwa sampai saat itu. Pun, meski mekrouh, terminasi kehamilan memerlukan persetujuan suami dan itu mempertimbangkan hak atau keputusan dari pihak perempuan.

Pada saat yang sama, mazhab Islam lainnya mempunyai pandangan berbeda terkait aborsi. Mazhab shafi, yang dominan di Asia Tenggara dan sebagian Africa, kebanyakan memperbolehkan terminasi kehamilan sampai usia kehamilan 40 hari dan terdapat beragam opini dalam mazhab terkait perkembangan fetus.

Beberapa imam Safi bahkan menolerasi aborsi sampai usia kehamilan 120 hari. Walaupun mazhab Hanbali yang dominan di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tidak mempunyai kesepakatan tunggal terkait aborsi, beberapa opini juga memperbolehkan aborsi sampai 120 hari kehamilan. Akhirnya, mazhab Mailiki, dominan di Afrika Utara, menegaskan bahwa fetus merupakan potensi kehidupan dan melarang aborsi tanpa pengecualian. Jadi, semua mazhab Islam mempertimbangkan fetus terjiwai pada 120 hari setelah konsepsi dan tidak ada satu pun yang menyetujui aborsi setelah tahapan itu.

Women on Web-The Conversation-1.jpg

Orang-orang Maroko yang protes memegang slogal menentang aborsi di pintu masuk pelabuhan Mediterranean Marina Smir, dekat Tetouan, Maroko bagian utara, pada 4 Oktober 2012, tentara menutup akses ke pelabuhan.

Fadel Senna/AFP

 

Pertimbangan sosio-politikal baru

Di banyak negara yang bermayoritas Muslim, yurisprudensi Islam mempengaruhi legislasi aborsi. Meskipun demikian, kekhawatiran sosio-politikal baru kerap muncul, legislasi aborsi sudah terbarui. Dalam kasus Kerajaan ottoman, “medium bebas” relatif yang ditawarkan oleh mazhab Hanafi ditantang oleh pro-kelahiran baru dan agenda modernis muncul akhir abad delapan belas. Situasi kerajaan menurun, modenisasi dan pertumbuhan penduduk dilihat sebagai ramuan bagi stabilitas militer, ekonomi, dan politik. Terinspirasi oleh Eropa, pada Ottoman hendak mencapai terobosan melalui reformasi luas dan proses kodifikasi.

Pada 1858, hukum pidana Kerajaan Ottoman membuat model setelah hukum pindah Prancis 1810 (Code Pénal 1810)–diadopsi. Hukum Pidana yang baru secara formal melarang dan mengkriminalisasikan aborsi melalui harmonisasi unik dari Hukum Pidana Prancis dengan yurisprudensi Islam. Kemudian, aborsi disebut-sebut haram (dilarang) secara legal di seluruh teritori Ottoman. Namun, dalam yurisprudensi Ottoman, aboarsi dikonsepkan secara ekslusif sebagai fenomena sosial. Ada prosekusi terdokumentasi yang diikuti implementasi yang menggambarkan poin Hukum Pidana ini, mereka mengkriminalisasikan praktisi aborsi, seperti dokter, perawat, juru farmasi, dan lain-lain, daripada perempuannya sendiri.

Mengikuti yurisprudensi Ottoman, banyak bekas teritori Ottoman tetap memberlakukan pembatasan aborsi. Meskipun demikian, ketika kita melihat negara-negara mayoritas Muslim, kita juga melihat keberagaman hukum aborsinya yang memperbolehkan dan melarang aborsi atas dasar macam-macam. Saat ini, banyak dari negara-negara itu, aborsi sering kali diperbolehkan ketika nyawa perempuan dalam bahaya, ketika fetus tidak berkembang, atau ketika kehamilannya merupakan akibat tindakan kriminal, seperti perkosaan. Ragam dasar itu memberi ruang kepada perempuan untuk tetap dapat melakukan aborsi, pun mereka tetap diharuskan berada di bawah naungan supervise medis dan proses hukum, menyebabkan ketiadaan ruang untuk aborsi yang dipilih.

 

Membatasi aborsi membawanya ke bawah tanah

Sudah diketahui secara umum dan ilmiah bahwa membatas aborsi tidak menghilangkan praktiknya. Sebaliknya, itu malah menyebabkan aborsi bekerja di bawah tanah dan memunculkan kemungkinan terjadinya aborsi tidak aman, juga kematian persalinan. Perempuan menggunakan metode berbahaya untuk mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkannya, mereka merisikokan kesehatannya, fertilitasnya, bahkan nyawanya. Setiap tahun, 47.000 perempuan meninggal dari komplikasi terkait aborsi tidak aman. Timur Tengah dan Afrika Utara, mengikuti Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan, berdampak besar terhadap negara ketiga dengan angka kematian ibu yang sangat tinggi.

Selanjutnya, pembatasan aborsi paling berdampak bagi perempuan dari latar belakang ekonomi rendah. Kerap, perempuan yang mampu masih mungkin untuk bepergian untuk mendapatkan akses aborsi aman di negara atau daerah lain. Beberapa perempuan juga bisa berhasil bernegosiasi dengan pemberi layanan kesehatan lokal. Untuk sebagian lainnya, pasar gelap hanya menjadi satu-satunya harapan. Banyak perempuan menjadi korban dari penipuan yang menjual pil aborsi palsu dengan harga tinggi. Bahkan bagi sebagian perempuan yang bisa mengakses layanan atau obat terpercaya, mereka jarang mendapatkan informasi terpercaya dan perawatan yang relevan. Ini mengakibatkan pengalaman aborsi mereka terisolasi sekaligus menyakitkan.

 

Angin segar dalam perubahan aplikasi

Seiring dengan kemajuan aborsi medis dan aborsi telemedis, alternatif aborsi aman semakin berkembang melampaui pembatasan hukum. Banyak perempuan yang tinggal di negara-negara mayoritas islam atau di mana pun dengan hukum aborsi yang ketat, melakukan konsultasi secara online (dalam jaringan) untuk mendapatkan bantuan dan informasi sehingga bisa swa-administrasi pil aborsi medis.

Studi sudah membuktikan bahwa swa-administrasi pil aborsi medis yang didapat dari layanan telemedis aman dan efektif bagi kehamilan muda.

Menjadi salah satu layanan telemedis yang menyediakan aborsi aman dalam situasi ketat, Women on Web (WoW) membantu sekitar 60.000 perempuan setiap tahun. Situs mereka bisa diakses dalam 16 bahasa, termasuk Bahasa Arab, Perisa, dan Turki.

Women on Web-The Conversation-4.png

Halaman muka situs Women on Web dalam Bahasa Arab. Women on Web adalah layanan aborsi telemedis yang menyediakan bantuan dan informasi kepada perempuan yang tinggal dalam situasi terbatas.

 

Pun begitu, di beberapa negara, seperti di Arab Saudi dan Turki, Women on Web sudah diblok. Dalam kasus seperti ini, untuk berdalih terhadap sensor, perempuan menggunakan aplikasi dalam ponsel mereka untuk meminta bantuan.

Saat ini, aborsi dianggap haram, illegal, dan rahasia di sebagian besar dunia Muslim. Selain itu, perempuan terus menantang status quo dan hukum kuno melalui kegiatan dan aktivisme mereka sehari-hari.

Pada 2012, ketika menanggapi rencana legislasi untuk membatas aborsi di Turki, ribuan perempuan mengorganisir unjuk rasa pro-choice di Istanbul. Mengambil alih jalanan untuk menuntut hak mereka terhadap aborsi aman, perempuan menuntut otonomi tubuh mereka: “Aborsi merupakan hak, keputusan ada di tangan perempuan.” (Kürtaj haktır, karar kadınların).

 

Diterjemahkan secara bebas dari The Conversation untuk kepentingan pengetahuan yang bisa diakses.

Ditulis oleh: Hazal Atay Ph.D candidate, INSPIRE Marie Skłodowska-Curie Fellow at Sciences Po Paris, Sciences Po – USPC

Google Maps Menghambat Akses Aborsi Aman

Teknologi kerap membantu perempuan yang ingin mengakses aborsi aman. Ia bisa menjadi pengantar perempuan pada informasi yang benar sehingga bisa mengatasi situasinya.

Sayangnya, kelompok antiaborsi di Inggris, Skotlandia, dan Wales juga memanfaatkan teknologi sebagai tipu daya terhadap perempuan yang membutuhkan akses aborsi aman. Mereka kerap menandai klinik-kliniknya sebagai klinik aborsi. Alih-alih mendapat dukungan untuk melakukan keputusan terhadap tubuhnya sendiri, perempuan-perempuan itu malah dinasihati.

Tindakan ini bisa membahayakan perempuan. Mereka bisa datang dengan keadaan medis yang krisis. Mereka juga bisa datang dengan situasi ingin melakukan aborsi aman. Mereka butuh dukungan.

 

Baca lengkapnya: https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/trend/18/11/06/phr40g328-google-maps-kelabui-perempuan-yang-ingin-ke-klinik-aborsi

Foto diambil dari link yang sama.

All about Vagina

A podcast about vagina in bahasa Indonesia

Magadelene Mind-Podcast.png

Vagina menjadi topik tabu untuk dibicarakan kebanyakan perempuan. Alih-alih menyebutkan vagina, banyak perempuan diajarkan untuk menyebut dengan perumpamaan lain, seperti “warung”. Perumpamaan itu sudah menimbulkan jarak antara perempuan dan tubuhnya sendiri, juga mendeskreditkan posisi perempuan. Apalagi, pendidikan seksualitas tidak membicarakan vagina secara apa adanya, kerap hanya sebatas fungsi reproduksinya.

Konstruksi sosial membuat perempuan tidak mengenal tubuhnya sendiri.

Dalam podcast ini, Magdalene–www.magdalene.co–mengajak Marcia Soumokil dari IPAS untuk membincangkan vagina tanpa kecanggungan. Sudah saatnya perempuan membicarakan tubuhnya sendiri tanpa malu-malu.

 

Silakan dengar obrolan lengkapnya melalui:

Gratis dan Simpatik: Perjalanan Aborsi Saya di Belanda

Cerita seorang perempuan Indonesia yang mengakses layanan aborsi aman di Den Haag, Belanda

Magdalene-Indonesia.png

Perempuan ini  hamil. Setelah mencari tahu klinik aborsi di Den Haag, dia pergi ke salah satunya. Sepertinya yang ia katakan, dia cukup beruntung karena sedang tinggal di negara yang akses terhadap layanan aborsi amannya bisa diakses oleh banyak perempuan.

Pun, itu tidak mudah baginya.

Perempuan ini lebih memilih menggunakan metode vakum dan menjelaskan bagaimana semuanya berjalan.

“Sampai hari ini, saya masih bersyukur untuk bisa mengakses layanan yang profesional dan simpatik, karena bagi orang yang melakukan aborsi, ini tidak mudah.”

Baca lengkapnya melalui: https://magdalene.co/news-1902-free-and-sympathetic-service-my-abortion-journey-in-the-netherlands.html

Gambar juga diambil dari lama yang sama (Magdalene.co).

Jaksa Meminta Penyintas Perkosaan Dihukum karena Aborsi

Perempuan berusia 15 tahun melakukan aborsi. Ia mengalami kehamilan tidak diinginkan akibat kakaknya memperkosanya. Sempet ditahan, banyak organisasi memperjuangkan haknya. Setelah dilepas, kini Jaksa menuntut untuk mengganjar hukum sebagai “pelajaran”.

The Jakarta Post meluncurkan berita soal Jaksa yang kembali menuntut penyintas perkosaan yang telah melakukan aborsi. Jaksa bilang bahwa perempuan, yang sudah kembali sekolah, bukan hanya korban perkosaan, tapi juga pelaku aborsi. Di Indonesia, aborsi hanya bisa dilakukan ketika usia kehamilan di bawah 40 hari bagi penyintas perkosaan.

Juru bicara Save Our Sistes, Zubaidah, mengatakan bahwa perempuan itu tidak bisa dituntut sebagai pelaku aborsi karena ia adalah penyintas perkosaan. Ia harus sebisa mungkin dibebaskan dari trauma. Tuntutan itu justru memperparah kondisi traumanya.

Sumber: http://www.thejakartapost.com/news/2018/09/18/prosecutors-call-for-jambi-rape-victim-to-be-punished-to-deter-abortion.html

Filipina: Akses terhadap Aborsi Aman dalam Lingkungan Terbatas

Women on Web menghadiri The 2nd International Exchange Workshop yang diselenggarakan oleh Pinsan (Philippine Safe Abortion Advocacy Network) di Manila pada 16—18 Agustus 2018. Lebih dari 50 partisipan dari berbagai negara, seperti Filipina, Indonesia, Irlandia, Tanzania, Puerto Rico, dan Polandia menghadiri acara ini. Women on Web diwakili Amalia.

Tema pertemuan ini adalah “Berbagi, belajar, dan bersama”.

Berbagi: Partisipan berbagi cerita dari beragam negara. Sebagian berhasil. Irlandia baru saja menang suara Iya! untuk mengamendemen hukum terkait aborsi dan akan memiliki layanan aborsi legal dalam beberapa bulan. Amalia berbagi informasi tentang kerja Women on Web di Indonesia dan berbagai negara dengan hukum aborsi yang membatasi perempuan. Negara lain masih berjuang untuk hak aborsi lebih lanjut, seperti Amerika Latin, Polandia, dan Tanzania.

Belajar: Bahkan, orang-orang yang berjuang untuk aborsi aman kadang menstigmatisasi isu ini tanpa sadar. Kita perlu mempertanyakan diri sendiri ketika masih beranggapan bahwa aborsi adalah isu sensitif. Seperti kita tahu, aborsi adalah prosedur normal dan bisa dilakukan dengan cara aman.

Aborsi sebaiknya bukan hanya dibicarakan di antara teman-teman saja di dalam ruangan yang sama, kami pergi ke komunitas di Barangay Batasan Hills. Untuk memulai diskusi, kami semua menonton film berjudul Motherland—yang menunjukkan situasi rumah sakit persalinan di Manila. Salah satu perempuan yang hadir mengatakan bahwa dia memiliki 6 anak dan ketika melahirkan, harus berbagai tempat tidur dengan perempuan lain. Perempuan lainnya menunjukkan kekhawatirannya terkait kesehatan (seksual dan) reproduksinya setelah bencana alam, seperti banjir.

Bersama: Kita semua harus bekerja sama untuk memiliki hukum yang lebih baik sehingga bisa menjamin perempuan bisa mengakses aborsi aman.

 

Pada 2018, 647 perempuan yang tinggal di Filipina menghubungi Women on Web. Lagi-lagi, ini menunjukkan bahwa peraturan yang membatasi perempuan tidak menghentikan kebutuhan perempuan mengakses aborsi aman. Di mana pun.

Padang: Siapa yang Anda hubungi ketika mengalami kehamilan yang tidak diinginkan?

Whatsapp, surat elektronik, telepon, dan kunjungan merupakan cara-cara yang perempuan tempuh untuk mengadu kekerasan atau perkosaan yang dialaminya kepada Nurani Perempuan. Nurani Perempuan yang berlokasi di Padang, Sumatra Barat, Indonesia merupakan organisasi yang mendampingi perempuan penyintas kekerasan dan perkosaan, juga melakukan advokasi terkait hal itu. Maka itu, Nurani Perempuan sering kali menjadi telinga dan uluran tangan bagi perempuan penyintas.

Pengalaman Nurani Perempuan, termasuk relawan dan komunitas yang didampinginya, menjadi pengetahuan yang dibagi kepada Women on Web ketika berkunjung ke Padang pada 27 Juni 2018. Kami berbagi pengalaman mengenai apa saja alasan perempuan melakukan hubungan seks dan apa yang membuat perempuan hamil. Dalam diskusi kelompok, mereka juga menjelaskan apa saja yang membuat perempuan ingin mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan, juga apa saja unsur pendukung perempuan bisa melanjutkan kehamilan tidak diinginkan.

Hasil presentasi dari diskusi kelompok menunjukkan bahwa perempuan sering kali berada di posisi yang harus menanggung beban norma sosial, ekonomi, sosial, budaya, dan agama. Mereka kadang tidak diberi pilihan banyak untuk meneruskan kehidupan yang berkualitas. Perkosaan yang dipaksa untuk dirahasiakan. Melanjutkan kehamilan akibat perkosaan atas nama baik keluarga dan bahkan nama baik kota.

Tiba pada saatnya bermain!

Nurani Perempuan dan teman-teman berdiri pada satu baris yang sama. Mereka diminta untuk berpindah tempat ketika mereka pernah diminta untuk merahasiakan aborsi. Pindah lagi ketika pernah atau mendengar seseorang yang dekat dengannnya melakukan aborsi. Pindah lagi kalau merasa aborsi adalah kesalahan. Pindah lagi jika perempuan merasa aborsi adalah hak perempuan. Mereka juga menjelaskan alasan-alasannya.

Setiap orang punya nilai dalam diri-dirinya yang terbentuk dari lingkungan, ajaran yang diterima, pengalaman, juga cerita-cerita dari perempuan lain. Cerita yang beragam sering kali membuat kita mempertanyakan kembali atau mempertegas nilai-nilai yang diamini. Namun, nilai tidak ajek. Ia bisa terus berkembang.

Untuk melihat kembali nilai yang dianutnya, setiap orang diminta untuk mengisi dua lembar formulir. Formulir itu berisi pernyataan-pernyataan dan mereka diminta untuk menyatakan seberapa setuju mereka terhadap pernyataan itu. Satu lembar berisi pengalaman perempuan secara umum. Satu lembar lagi berisi pernyataan ketika ia sendiri yang mengalaminya.

Dengan mengisi kedua lembar dari Ipas itu, perempuan bisa melihat bagaimana perempuan bisa punya nilai yang berbeda ketika melihat situasi yang dialami orang lain dan dialami dirinya sendiri.

Diskusi berlanjut dengan berbagi cerita tentang aborsi yang tidak aman dan dampaknya terhadap perempuan. Kemudian, Amalia, sebagai perwakilan Women on Web, menjelaskan bahwa ada alternatif pilihan bagi perempuan untuk melakukan aborsi medis jika usia kehamilan di bawah 12 minggu.

Cara penggunaan pil, apa yang diharapkan terjadi setelah melakukan aborsi medis, tanda-tanda komplikasi, dan apa yang perlu dilakukan perempuan jika mengalami komplikasi dibahas kembali. Diskusi itu sudah dilakukan sebelumnya di Nurani Perempuan sehari sebelumnya, 26 Juni 2018.

Peraturan perundang-undangan di Indonesia terkait aborsi (UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009, PP No. 61 Tahun 2014, dan Permenkes No. 3 Tahun 2016) juga menjadi bahan pembicaraan. Peraturan yang mengekang bukan berarti mengurangi angka aborsi, hanya menghindari cara mengakses layanan yang aman dan menyembunyikan angka aborsi di Indonesia.

Salah satu alternatif yang bisa ditawarkan adalah layanan telemedis aborsi. Perempuan bisa mengirimkan surat elektronik kepada info@womenonweb.org untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait aborsi medis yang aman.

Irlandia Bilang “Iya” untuk Akses Aborsi

Irlandia menggoreskan sejarah penting pada 25 Mei 2018. Negaranya tidak lagi melanggar salah satu hak asasi perempuan.

Irlandia mulai menjamin perempuan bisa mengakses aborsi aman di negaranya sendiri.

Referendum yang dilakukan pada 25 Mei 2018 menghasilkan 66,4% mengisi kotak “iya”. “Iya” yang dimaksud adalah perubahan dalam amandemen kedelapan konstitusi Irlandia: apakah perlu menghapuskan pasal yang menyatakan bahwa hak yang belum lahir sama saja dengan hak ibunya? Ketika hasil diumumkan, orang-orang yang berkumpul bersorak sorai. Mengepalkan tangannya ke atas. Bertepuk tangan. Berteriak. Berpelukan. Menangis. Terharu sekaligus kegirangan.

Aborsi aman memang isu perempuan. Namun, ada 30% perempuan pemilih yang berpihak pada tidak adanya perubahan. Justru, banyak laki-laki memberikan dukungan. Hasil voting menunjukkan bahwa 65% orang yang mengatakan “iya” adalah laki-laki. Sementara itu, pemilih urban maupun rural cenderung memilih “iya”, yaitu 71% dan 60%. Survei itu dilakukan oleh Ipsos MRBI untuk The Irish Times. Mereka mewawancarai lebih dari 4.500 pemilih di 160 lokasi yang berbeda.

Setelah pengumuman, Perdana Menteri Irlandia, Leo Varadkar, menyatakan bahwa hasil tersebut menunjukkan bahwa publik, “percaya dan menghargai perempuan untuk menentukan keputusan dan pilihannya sendiri.”

Menariknya, semakin muda usia pemilih, kecenderungan untuk memilih “iya” semakin besar.

Mayoritas kelompok umur memilih “iya”, masih dari survei yang sama. Pemilih yang berusia 18—24 tahun mencapai 87%; pemilih berumur 25—34 tahun mendapat suara “iya” hingga 83%. Kebanyakan dari mereka (74%) yang berusia 35—49 tahun juga bilang “iya”. Pun semakin menurun jumlahnya, tetapi lebih dari setengah jumlah pemilih berusia 30—64 tahun tetap mengatakan “iya” (63%). Kecuali, pemilih di atas 65 tahun; 60% memilih “tidak”.

Mungkin, usia itu terpengaruh dari amendemen konstitusi yang kedelapan pada 1983. Kala itu, 67% orang memilih pengakuan terhadap hak hidup yang belum lahir dan memberikan hak yang setara dengan ibunya. Sejak tahun itu sampai 25 Mei 2018, aborsi hanya bisa diakses di Irlandia ketika perempuan berada dalam keadaan yang membahayakan nyawanya, tetapi tidak dalam kasus fetus abnormal, perkosaan, atau inses. Ketika ada yang membantu perempuan menjalankan keputusannya, kriminalisasi dijatuhkan.

Alhasil, perempuan Irlandia hanya diperbolehkan mendapatkan informasi layanan aborsi di negara Uni Eropa lain dan dapat bepergian ke sana.

Itu hanya berlaku bagi mereka yang punya kemewahan akses. Sayangnya, kewahan tersebut tidak dimiliki oleh Savita Halappanavar.

Kasus Savita Halappanavar, seorang dokter gigi yang tinggal di Galway, sering disebutkan sebagai pemantik referendum ini. Pada kehamilan anak pertamanya yang berusia 17 minggu pada 2012, ia pergi ke rumah sakit akibat sakit punggung. Dokter mengatakan fetusnya tidak dapat bertahan lagi, tetapi Savita tetap tidak bisa diberikan layanan aborsi. Irlandia adalah negara Katolik dan menghentikan kehamilan ketika masih ada denyut jantung merupakan tindakan illegal, orang-orang mengatakan kepadanya.

Ia terpaksa pulang dan menunggu sampai denyut fetusnya menghilang. Saat itu terjadi, ia sudah mengalami infeksi. Nyawanya tak tertolong. Ia meninggal.

Kemewahan juga tidak dimiliki perempuan korban perkosaan berusia 14 tahun. “Kasus X” terjadi pada 1992. Perkosaan menyebabkan ia hamil. Ia dihalang-halangi pergi ke Inggris untuk melakukan aborsi. Ia akhirnya merisikokan nyawanya sendiri.

Artinya, peraturan ketat yang menghalangi hak asasi perempuan atas kesehatan dan tubuhnya tidak membuat aborsi enyah. Malah, peraturan semacam itu hanya membuat perempuan mengakses aborsi dengan membahayakan dirinya sendiri. Mereka mempertimbangkan jatuh dari tangga, minum alkohol, memukul perutnya sebagai cara-cara untuk melakukan aborsi.

Perempuan juga memilih mengakses aborsi dengan cara yang lebih susah dan lebih mahal. Menurut IFPA, antara 1980 sampai 2016, Departemen Kesehatan Inggris mengeluarkan statistik yang menunjukkan bahwa terdapat 168.703 perempuan yang mengakses layanan aborsi dengan alamat Irlandia.

Bahkan, hanya melihat pada 2016, sejumlah 3.265 perempuan—termasuk remaja—mengakses layanan itu. Itu belum menjadi angka keseluruhan mengingat banyak perempuan juga bepergian ke negara lain untuk mengakses aborsi, misalnya ke Belanda.

Lagi-lagi, itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kemewahan, finansial misalnya.

Pilihan lain bagi perempuan adalah melakukan aborsi medis di rumahnya. Setiap hari ada lima permintaan pil aborsi dari Irlandia, berdasarkan data Women on Web yang diolah dan dianalisis oleh Abigail Aiken, asisten profesor di Universitas Texas, Austin. Studinya menunjukkan bahwa 95% perempuan berhasil mengakhiri kehamilannya dan 5% memerlukan tindakan medis. Women on Web memberikan layanan aborsi medis aman bagi perempuan di banyak negara, termasuk Irlandia.

“Kita tidak bisa lagi terus-menerus mengekspor masalah kita dan mengimpor solusinya,” demikian yang dikatakan Perdana Menteri Irlandia, Leo Varadkar.

Malah, suara-suara pemilih berdatangan dari berbagai negara. Orang-orang rela pulang demi suaranya masuk hitungan. Perjalanan 30 jam menjadi bukan persoalan. Seseorang menawarkan uangnya untuk digunakan sebagai biaya perjalanan orang lain. Semua demi hitungan “iya”.

 

*Foto diambil dari: https://www.belfasttelegraph.co.uk/news/republic-of-ireland/five-women-a-day-seek-online-abortion-pills-study-finds-36863573.html

Jaringan yang Bicara tentang Aborsi Aman di Indonesia

Amalia bertanggung jawab untuk memperluas dan memperbanyak aktivitas di Asia dan dengan asuhannya, Women on Web bergabung dalam Safe Abortion Working Group di Indonesia. Sembilan organisasi dan empat-belas individu bergabung dalam jaringan yang fokus pada kesehatan reproduksi dan seksualitas di Indonesia, termasuk aborsi aman. Women on Web menjadi salah satu organisasi yang bergabung dalam Save All Women and Girls (SAWG). Dimulai sejak pertemuan pada 2015, SAWG akhirnya mengesahkan anggota dan kepengurusannya pada April 2018. Visi SAWG adalah terciptanya perubahan yang kondusif bagi semua perempuan untuk menentukan dan mendapatkan pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi, khususnya layanan aborsi aman. Untuk mencapainya, SAWG akan mengembangkan pendidikan kritis berbasis gender dan inklusif bagi perempuan terkait hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR). SAWG juga akan mengembangkan inovasi model layanan aborsi aman yang mudah diakses, komprehensif serta berorientasi dan berbasis pada pemenuhan hak-hak asasi perempuan. Advokasi akan menjadi salah satu kegiatan SAWG yang berbasis data dan inovasi-inovasi pengalaman terbaik untuk mendorong perubahan dan implementasi kebijakan dalam pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) perempuan.

Aborsi di Indonesia diperbolehkan dengan beberapa persyaratan.

UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan PP No. 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi menyebutkan bahwa aborsi boleh dilakukan jika ada indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan. Dua tahun setelah keluarnya PP No. 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Permenkes No. 3 Tahun 2016 tentang Pelatihan dan Penyelenggaraan Pelayanan Aborsi atas Indikasi Kedaruratan Medis dan Kehamilan Akibat Perkosaan. Meskipun instrumen landasan hukum sudah lengkap, kebijakan itu belum diterapkan di lapangan hingga saat ini. Hal itu menyebabkan tidak ada informasi, rujukan, dan penyediaan layanan yang dapat diakses perempuan sehingga terlambat mengambil keputusan untuk melakukan aborsi. Tidak semua petugas medis bersedia memberikan layanan aborsi aman, bahkan ada petugas medis menakut-nakuti perempuan yang akan melakukan aborsi.

Peraturan perundang-undangan yang begitu membatasi tidak menghentikan kebutuhan aborsi. Layanan aman yang terbatas membuat banyak perempuan mengakses aborsi tidak aman yang justru membahayakan kesehatan dan nyawanya. Pemberian akses informasi dan layanan aborsi aman bisa menyelamatkan perempuan.