Peran Media dalam Advokasi Aborsi Aman

Media menjadi salah satu aktor penting dalam penyebaran informasi akurat terkait aborsi aman. Media bisa menjadi panduan dalam derasnya arus informasi elektronik karena jurnalis berperan dalam memverifikasi data. Jurnalis mampu memberitakan aborsi dari perspektif kemanusiaan yang tidak melulu menyudutkan perempuan dan menggolongkannya dalam tindak kriminal.

Menanggapi pentingnya peran media, Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) mengadakan pelatihan bagi jurnalis dalam pemberitaan aborsi. Setelah pelatihan tersebut, artikel yang tentang aborsi yang ditulis peserta pelatihan dikumpulkan. Terpilihlah tiga tulisan yang dianggap terbaik dalam mewakili perspektif kemanusiaan.

Kisah perkosaan dan aborsi bisa masuk dalam dua rubrik yang berbeda, pun sebenarnya saling berkelindan. Sonya mengatakan perkosaan bisa masuk kriminal, sedangkan aborsi bisa masuk kesehatan. “Ada berapa banyak wartawan tertarik dengan isu kesehatan?” Sonya bertanya seakan itu retoris, padahal hadirin ingin tahu betul jawabannya. Artinya, itu banyak atau tidak banyak? Apa alasannya?

Pun wartawan sudah punya kapasitas yang baik, mereka tetap harus berhadapan dengan editor sebagai pengambil keputusan. Tambahnya, pelatihan seharusnya bukan hanya untuk wartawan, juga perlu sering-sering “ngobrol” dengan pengambil keputusan di media.

Women on Web turut hadir dalam obrolan soal peran media dalam advokasi aborsi aman yang diinisiasi oleh Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) pada Selasa, 16 April 2019, tepat sehari sebelum Pemilihan Umum. Ketiga orang yang duduk di depan adalah Sonya Helen dari harian Kompas dan dr. Sarsanto Sarwono yang mewakili POGI, dimoderatori oleh Zumrotin dari YKP. Pada penjelasan awalnya, dr. Sarsanto menegaskan bahwa penyintas perkosaan seharusnya memang dilindungi hukum dalam mengakses layanan aborsi aman, tetapi sistemnya belum ada sehingga belum bisa terimplementasikan dengan baik.

 

 

Happy Robotic Telepresent Scientific 2019

Halo, Teman-teman

Mulai 1 Januari 2019, pil aborsi akan tersedia secara legal di Irlandia melalui dokter umum.

Kapal aborsi Women on Waves pertama kali mengunjungi Irlandia pada 2001 dan Women on Web sudah memfasilitasi pil aborsi aman kepada perempuan yang tinggal di Irlandia sejak 2006.

Sejak 2014, kami melakukan kampanye bersama anggota parlementer Ruth Coppinger dan organisasi hak perempuan ROSA dan kami—dengan bangga—bisa menyediakan data ilmiah tentang jumlah perempuan di Irlandia yang menggunakan pil aborsi. Data itu membantu politisi Irlandia dalam pengambilan keputusan terkait pelegalan aborsi di Irlandia.

Juga, pada 2018, kami mengembangkan inovasi kampanye dan strategi yang memengaruhi opinik publik sehingga bisa memantik perubahan kebijakan dan hukum. Hanya ketika pil aborsi menjadi mudah diakses tanpa batasan, semua perempuan—termasuk paling rentan dengan situasi sosial ekonomi yang menyulitkan, kekerasan domestik, kesehatan fisik dan mental sehingga membatasi pergerakan, dan perempuan tanpa dokumen—akan dapat mengakses layanan kesehatan yang sangat dibutuhkan. Dan, selama ini merupakan situasi riil di mana pun, Women on Web akan terus memfasilitasi akses aborsi aman dengan pil.

Jadi, mari kita lihat kembali sorotan selama 2018.

  1. Studi baru tentang data Women on Web diterbitkan dalam BMJ menunjukkan bahwa hukum aborsi terbatas di Irlandia Utara membahayakan.
  2. Studi berisi wawancara mendalam tentang alasan perempuan dari Amerika Serikat mencari pil aborsi secara online (dalam jaringan).
  3. Pada 23 Januari, BMJ mempublikasikan penelitian tentang penggunaan pil aborsi yang didapat melalui Women on Web oleh perempuan yang tinggal di Isle of Man. Pada 30 Januari, artikel itu disirkulasi kepada MHK untuk memberikan informasi latar belakang sebelum pengambilan suara rancangan undang-undang baru terkait pembolehan aborsi sampai 14 minggu. Undang-undang ini lolos dalam House of Keys. Pada 7 November, undang-undang ini mendapat dukungan secara anonim dari anggota Tynwald. Undang-undang Reformasi Aborsi 2017 diberikan kepada Lieutenant Governor for Royal Assent. Ketika diterima oleh Royal Assent, the Council of Ministers akan mengumumkan tanggal pemberlakuannya.

Jadi, harapan kami menjelang Tahun Baru 2019 adalah kami akan terus menunjukkan tantangan terhadap layanan aborsi aman, mengkatalisasi kebijakan, dan mengubah hukum yang bisa memberantas hambatan, dan terus membuka peluang untuk akses aborsi di seluruh dunia. Dan, dengan dukungan Anda, kami benar-benar bisa melakukannya! (Silakan klik di sini untuk melakukan donasi untuk Women on Waves atau Women on Web).

 

Terima kasih banyak!

Mewakili semua orang yang bekerja dengan Women on Waves dan Women on Web dan semua perempuan dari seluruh dunia

Ingin mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan selama proses aborsi. Saya menggunakan pil pada 24 Oktober dan baru mengalami menstruasi. Saya sangat senang ketika tahu bahwa waktu yang membuat saya stres sudah selesai dan tubuh saya sudah membaik, membuat saya lebih mudah untuk merasakan apa yang sudah terjadi. Sejujurnya, tidak tahu bagaimana kami bisa berterima kasih terhadap layanan Anda ketika kami tidak perlu mengalami perjalanan traumatis dan mahal dari Irlandia ke Inggris, ini malah bisa membuat semuanya menjadi jauh lebih mudah. Ini membuat saya tahu bahwa dengan menggunakan pil di rumah saya sendiri yang nyaman dan tidak perlu khawatir dengan perjalanan kembali ke rumah dan lain-lain. Ini merupakan layanan yang sangat baik; Anda sudah menyediakannya kepada banyak perempuan dan saya tidak pernah bisa cukup berterima kasih. 

Terima kasih banyak Women on Web yang sudah membantu saya untuk urusan ini. Ini benar-benar bantuan besar terhadap masalah saya. Saya tidak tahu awalnya harus ngapain ketika tahu bahwa saya hamil. Terima kasih banyak untuk kebaikan Anda menmbantu banyak perempuan seperti saya yang mengalami kekerasan dan perkosaan. Saya akan menunggu obatnya untuk datang di pintu rumah saya. Sekali lagi, terima kasih.

Terima kasih untuk menciptakan ruang aman dan bebas nilai kepada saya. Ini sangat berarti, lebih berarti dari yang Anda bayangkan dan punya efek yang sama dengan menyelematkan satu nyawa orang.

Kehamilan saya bukan merupakan hasil dari aksi saya sendiri dan saya lega dengan layanan ini. Saya sekarang bisa membangun kehidupan lagi dan mulai bergerak dari kejadian penuh luka parah. Saya nggak pernah merasa percaya dengan aborsi sampai saya sendiri ada dalam keadaan yang memerlukannya. 

Kupang: Kemanusiaan mengalahkan stigma

Layanan kesehatan seksualitas dan reproduksi kerap tidak mudah didapatkan jika seseorang belum memegang status sudah menikah, apalagi remaja. Moralnya biasanya dipertanyakan sehingga membuat remaja perempuan merasa malu, putus asa, dan bersalah. Banyak tenaga kesehatan dan tenaga medis menolak memberikan layanan kontrasepsi bagi perempuan yang belum menikah, termasuk temaja. Apalagi aborsi.

Justru, penolakan tersebut kadang membahayakan perempuan.

Walaupun Linda Rae Bennet melakukan penelitian tentang pengalaman perempuan belum menikah yang melakukan aborsi di Lombok, Indonesia Timur pada 2001, situasi tersebut masih tergambarkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Menanggapi situasi tersebut, Amalia—sebagai representatif Women on Web—diundang oleh Instituta Hak Asasi Perempuan (IHAP) dalam acara Pelatihan Pelayanan Ramah Remaja pada 20—21 November 2018. Ia memfasilitasi sesi layanan aborsi aman dan berbagi pengalaman Women on Web kepada penyedia layanan kesehatan dan kasus kekerasan berbasis gender dan seksualitas yang berasal dari Kabupaten Timor Tengah Utara, Kota Kupang, dan Kabupaten Manggarai Barat.

Amalia membuka sesi dengan mengupas lapisan-lapisan hak istimewa setiap orang, seperti abilitas, usia, status pernikahan, akses terhadap internet, ekonomi, sosial-budaya, dan pendidikan. Ini bisa menjadi bekal dalam memberikan layanan kepada perempuan yang hak istimewanya absen. Situasi yang mereka alami seringnya merupakan akibat dari kejanggalan sistem, tidak terkait moral.

Kepercayaan terhadap klien menjadi landasan penting yang mesti terus melekat pada pemberi layanan. Terlepas dari identitas orang-orang yang datang kepada mereka.

Alasan kedatangan mereka pun beragam. Amalia berbagi pertanyaan-pertanyaan yang diterima helpdesk Women on Web sehari-hari. Sebut saja kontrasepsi, konfirmasi kehamilan, juga aborsi aman. Aborsi medis bisa jadi salah satu alternatif dengan menggunakan Mifepristone dan Misoprostol dengan kemungkinan keberhasilan yang lebih tinggi atau bisa juga Misoprostol saja.

Sesi ditutup dengan pertanyaan: “Apa yang bisa Anda lakukan jika berhadapan dengan seorang remaja perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan?”

 

1 orang menyatakan kesediaannya memberikan layanan aborsi aman.

4 orang menyarankan perempuan untuk melanjutkan kehamilan.

10 orang merujuknya kepada pemberi layanan yang bisa membantu, termasuk Women on Web.

20 orang melakukan konseling dan membiarkan perempuan mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.

 

“Saya bersedia menjadi pendamping dalam memberikan layanan aborsi aman.”

 

Sekuat apa pun setigma terhadap perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, ternyata banyak orang bersedia mendampingi mereka.

Google Maps Menghambat Akses Aborsi Aman

Teknologi kerap membantu perempuan yang ingin mengakses aborsi aman. Ia bisa menjadi pengantar perempuan pada informasi yang benar sehingga bisa mengatasi situasinya.

Sayangnya, kelompok antiaborsi di Inggris, Skotlandia, dan Wales juga memanfaatkan teknologi sebagai tipu daya terhadap perempuan yang membutuhkan akses aborsi aman. Mereka kerap menandai klinik-kliniknya sebagai klinik aborsi. Alih-alih mendapat dukungan untuk melakukan keputusan terhadap tubuhnya sendiri, perempuan-perempuan itu malah dinasihati.

Tindakan ini bisa membahayakan perempuan. Mereka bisa datang dengan keadaan medis yang krisis. Mereka juga bisa datang dengan situasi ingin melakukan aborsi aman. Mereka butuh dukungan.

 

Baca lengkapnya: https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/trend/18/11/06/phr40g328-google-maps-kelabui-perempuan-yang-ingin-ke-klinik-aborsi

Foto diambil dari link yang sama.

Filipina: Akses terhadap Aborsi Aman dalam Lingkungan Terbatas

Women on Web menghadiri The 2nd International Exchange Workshop yang diselenggarakan oleh Pinsan (Philippine Safe Abortion Advocacy Network) di Manila pada 16—18 Agustus 2018. Lebih dari 50 partisipan dari berbagai negara, seperti Filipina, Indonesia, Irlandia, Tanzania, Puerto Rico, dan Polandia menghadiri acara ini. Women on Web diwakili Amalia.

Tema pertemuan ini adalah “Berbagi, belajar, dan bersama”.

Berbagi: Partisipan berbagi cerita dari beragam negara. Sebagian berhasil. Irlandia baru saja menang suara Iya! untuk mengamendemen hukum terkait aborsi dan akan memiliki layanan aborsi legal dalam beberapa bulan. Amalia berbagi informasi tentang kerja Women on Web di Indonesia dan berbagai negara dengan hukum aborsi yang membatasi perempuan. Negara lain masih berjuang untuk hak aborsi lebih lanjut, seperti Amerika Latin, Polandia, dan Tanzania.

Belajar: Bahkan, orang-orang yang berjuang untuk aborsi aman kadang menstigmatisasi isu ini tanpa sadar. Kita perlu mempertanyakan diri sendiri ketika masih beranggapan bahwa aborsi adalah isu sensitif. Seperti kita tahu, aborsi adalah prosedur normal dan bisa dilakukan dengan cara aman.

Aborsi sebaiknya bukan hanya dibicarakan di antara teman-teman saja di dalam ruangan yang sama, kami pergi ke komunitas di Barangay Batasan Hills. Untuk memulai diskusi, kami semua menonton film berjudul Motherland—yang menunjukkan situasi rumah sakit persalinan di Manila. Salah satu perempuan yang hadir mengatakan bahwa dia memiliki 6 anak dan ketika melahirkan, harus berbagai tempat tidur dengan perempuan lain. Perempuan lainnya menunjukkan kekhawatirannya terkait kesehatan (seksual dan) reproduksinya setelah bencana alam, seperti banjir.

Bersama: Kita semua harus bekerja sama untuk memiliki hukum yang lebih baik sehingga bisa menjamin perempuan bisa mengakses aborsi aman.

 

Pada 2018, 647 perempuan yang tinggal di Filipina menghubungi Women on Web. Lagi-lagi, ini menunjukkan bahwa peraturan yang membatasi perempuan tidak menghentikan kebutuhan perempuan mengakses aborsi aman. Di mana pun.

Padang: Siapa yang Anda hubungi ketika mengalami kehamilan yang tidak diinginkan?

Whatsapp, surat elektronik, telepon, dan kunjungan merupakan cara-cara yang perempuan tempuh untuk mengadu kekerasan atau perkosaan yang dialaminya kepada Nurani Perempuan. Nurani Perempuan yang berlokasi di Padang, Sumatra Barat, Indonesia merupakan organisasi yang mendampingi perempuan penyintas kekerasan dan perkosaan, juga melakukan advokasi terkait hal itu. Maka itu, Nurani Perempuan sering kali menjadi telinga dan uluran tangan bagi perempuan penyintas.

Pengalaman Nurani Perempuan, termasuk relawan dan komunitas yang didampinginya, menjadi pengetahuan yang dibagi kepada Women on Web ketika berkunjung ke Padang pada 27 Juni 2018. Kami berbagi pengalaman mengenai apa saja alasan perempuan melakukan hubungan seks dan apa yang membuat perempuan hamil. Dalam diskusi kelompok, mereka juga menjelaskan apa saja yang membuat perempuan ingin mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan, juga apa saja unsur pendukung perempuan bisa melanjutkan kehamilan tidak diinginkan.

Hasil presentasi dari diskusi kelompok menunjukkan bahwa perempuan sering kali berada di posisi yang harus menanggung beban norma sosial, ekonomi, sosial, budaya, dan agama. Mereka kadang tidak diberi pilihan banyak untuk meneruskan kehidupan yang berkualitas. Perkosaan yang dipaksa untuk dirahasiakan. Melanjutkan kehamilan akibat perkosaan atas nama baik keluarga dan bahkan nama baik kota.

Tiba pada saatnya bermain!

Nurani Perempuan dan teman-teman berdiri pada satu baris yang sama. Mereka diminta untuk berpindah tempat ketika mereka pernah diminta untuk merahasiakan aborsi. Pindah lagi ketika pernah atau mendengar seseorang yang dekat dengannnya melakukan aborsi. Pindah lagi kalau merasa aborsi adalah kesalahan. Pindah lagi jika perempuan merasa aborsi adalah hak perempuan. Mereka juga menjelaskan alasan-alasannya.

Setiap orang punya nilai dalam diri-dirinya yang terbentuk dari lingkungan, ajaran yang diterima, pengalaman, juga cerita-cerita dari perempuan lain. Cerita yang beragam sering kali membuat kita mempertanyakan kembali atau mempertegas nilai-nilai yang diamini. Namun, nilai tidak ajek. Ia bisa terus berkembang.

Untuk melihat kembali nilai yang dianutnya, setiap orang diminta untuk mengisi dua lembar formulir. Formulir itu berisi pernyataan-pernyataan dan mereka diminta untuk menyatakan seberapa setuju mereka terhadap pernyataan itu. Satu lembar berisi pengalaman perempuan secara umum. Satu lembar lagi berisi pernyataan ketika ia sendiri yang mengalaminya.

Dengan mengisi kedua lembar dari Ipas itu, perempuan bisa melihat bagaimana perempuan bisa punya nilai yang berbeda ketika melihat situasi yang dialami orang lain dan dialami dirinya sendiri.

Diskusi berlanjut dengan berbagi cerita tentang aborsi yang tidak aman dan dampaknya terhadap perempuan. Kemudian, Amalia, sebagai perwakilan Women on Web, menjelaskan bahwa ada alternatif pilihan bagi perempuan untuk melakukan aborsi medis jika usia kehamilan di bawah 12 minggu.

Cara penggunaan pil, apa yang diharapkan terjadi setelah melakukan aborsi medis, tanda-tanda komplikasi, dan apa yang perlu dilakukan perempuan jika mengalami komplikasi dibahas kembali. Diskusi itu sudah dilakukan sebelumnya di Nurani Perempuan sehari sebelumnya, 26 Juni 2018.

Peraturan perundang-undangan di Indonesia terkait aborsi (UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009, PP No. 61 Tahun 2014, dan Permenkes No. 3 Tahun 2016) juga menjadi bahan pembicaraan. Peraturan yang mengekang bukan berarti mengurangi angka aborsi, hanya menghindari cara mengakses layanan yang aman dan menyembunyikan angka aborsi di Indonesia.

Salah satu alternatif yang bisa ditawarkan adalah layanan telemedis aborsi. Perempuan bisa mengirimkan surat elektronik kepada info@womenonweb.org untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait aborsi medis yang aman.

Irlandia Bilang “Iya” untuk Akses Aborsi

Irlandia menggoreskan sejarah penting pada 25 Mei 2018. Negaranya tidak lagi melanggar salah satu hak asasi perempuan.

Irlandia mulai menjamin perempuan bisa mengakses aborsi aman di negaranya sendiri.

Referendum yang dilakukan pada 25 Mei 2018 menghasilkan 66,4% mengisi kotak “iya”. “Iya” yang dimaksud adalah perubahan dalam amandemen kedelapan konstitusi Irlandia: apakah perlu menghapuskan pasal yang menyatakan bahwa hak yang belum lahir sama saja dengan hak ibunya? Ketika hasil diumumkan, orang-orang yang berkumpul bersorak sorai. Mengepalkan tangannya ke atas. Bertepuk tangan. Berteriak. Berpelukan. Menangis. Terharu sekaligus kegirangan.

Aborsi aman memang isu perempuan. Namun, ada 30% perempuan pemilih yang berpihak pada tidak adanya perubahan. Justru, banyak laki-laki memberikan dukungan. Hasil voting menunjukkan bahwa 65% orang yang mengatakan “iya” adalah laki-laki. Sementara itu, pemilih urban maupun rural cenderung memilih “iya”, yaitu 71% dan 60%. Survei itu dilakukan oleh Ipsos MRBI untuk The Irish Times. Mereka mewawancarai lebih dari 4.500 pemilih di 160 lokasi yang berbeda.

Setelah pengumuman, Perdana Menteri Irlandia, Leo Varadkar, menyatakan bahwa hasil tersebut menunjukkan bahwa publik, “percaya dan menghargai perempuan untuk menentukan keputusan dan pilihannya sendiri.”

Menariknya, semakin muda usia pemilih, kecenderungan untuk memilih “iya” semakin besar.

Mayoritas kelompok umur memilih “iya”, masih dari survei yang sama. Pemilih yang berusia 18—24 tahun mencapai 87%; pemilih berumur 25—34 tahun mendapat suara “iya” hingga 83%. Kebanyakan dari mereka (74%) yang berusia 35—49 tahun juga bilang “iya”. Pun semakin menurun jumlahnya, tetapi lebih dari setengah jumlah pemilih berusia 30—64 tahun tetap mengatakan “iya” (63%). Kecuali, pemilih di atas 65 tahun; 60% memilih “tidak”.

Mungkin, usia itu terpengaruh dari amendemen konstitusi yang kedelapan pada 1983. Kala itu, 67% orang memilih pengakuan terhadap hak hidup yang belum lahir dan memberikan hak yang setara dengan ibunya. Sejak tahun itu sampai 25 Mei 2018, aborsi hanya bisa diakses di Irlandia ketika perempuan berada dalam keadaan yang membahayakan nyawanya, tetapi tidak dalam kasus fetus abnormal, perkosaan, atau inses. Ketika ada yang membantu perempuan menjalankan keputusannya, kriminalisasi dijatuhkan.

Alhasil, perempuan Irlandia hanya diperbolehkan mendapatkan informasi layanan aborsi di negara Uni Eropa lain dan dapat bepergian ke sana.

Itu hanya berlaku bagi mereka yang punya kemewahan akses. Sayangnya, kewahan tersebut tidak dimiliki oleh Savita Halappanavar.

Kasus Savita Halappanavar, seorang dokter gigi yang tinggal di Galway, sering disebutkan sebagai pemantik referendum ini. Pada kehamilan anak pertamanya yang berusia 17 minggu pada 2012, ia pergi ke rumah sakit akibat sakit punggung. Dokter mengatakan fetusnya tidak dapat bertahan lagi, tetapi Savita tetap tidak bisa diberikan layanan aborsi. Irlandia adalah negara Katolik dan menghentikan kehamilan ketika masih ada denyut jantung merupakan tindakan illegal, orang-orang mengatakan kepadanya.

Ia terpaksa pulang dan menunggu sampai denyut fetusnya menghilang. Saat itu terjadi, ia sudah mengalami infeksi. Nyawanya tak tertolong. Ia meninggal.

Kemewahan juga tidak dimiliki perempuan korban perkosaan berusia 14 tahun. “Kasus X” terjadi pada 1992. Perkosaan menyebabkan ia hamil. Ia dihalang-halangi pergi ke Inggris untuk melakukan aborsi. Ia akhirnya merisikokan nyawanya sendiri.

Artinya, peraturan ketat yang menghalangi hak asasi perempuan atas kesehatan dan tubuhnya tidak membuat aborsi enyah. Malah, peraturan semacam itu hanya membuat perempuan mengakses aborsi dengan membahayakan dirinya sendiri. Mereka mempertimbangkan jatuh dari tangga, minum alkohol, memukul perutnya sebagai cara-cara untuk melakukan aborsi.

Perempuan juga memilih mengakses aborsi dengan cara yang lebih susah dan lebih mahal. Menurut IFPA, antara 1980 sampai 2016, Departemen Kesehatan Inggris mengeluarkan statistik yang menunjukkan bahwa terdapat 168.703 perempuan yang mengakses layanan aborsi dengan alamat Irlandia.

Bahkan, hanya melihat pada 2016, sejumlah 3.265 perempuan—termasuk remaja—mengakses layanan itu. Itu belum menjadi angka keseluruhan mengingat banyak perempuan juga bepergian ke negara lain untuk mengakses aborsi, misalnya ke Belanda.

Lagi-lagi, itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kemewahan, finansial misalnya.

Pilihan lain bagi perempuan adalah melakukan aborsi medis di rumahnya. Setiap hari ada lima permintaan pil aborsi dari Irlandia, berdasarkan data Women on Web yang diolah dan dianalisis oleh Abigail Aiken, asisten profesor di Universitas Texas, Austin. Studinya menunjukkan bahwa 95% perempuan berhasil mengakhiri kehamilannya dan 5% memerlukan tindakan medis. Women on Web memberikan layanan aborsi medis aman bagi perempuan di banyak negara, termasuk Irlandia.

“Kita tidak bisa lagi terus-menerus mengekspor masalah kita dan mengimpor solusinya,” demikian yang dikatakan Perdana Menteri Irlandia, Leo Varadkar.

Malah, suara-suara pemilih berdatangan dari berbagai negara. Orang-orang rela pulang demi suaranya masuk hitungan. Perjalanan 30 jam menjadi bukan persoalan. Seseorang menawarkan uangnya untuk digunakan sebagai biaya perjalanan orang lain. Semua demi hitungan “iya”.

 

*Foto diambil dari: https://www.belfasttelegraph.co.uk/news/republic-of-ireland/five-women-a-day-seek-online-abortion-pills-study-finds-36863573.html