Layanan Aborsi Aman dan Legal untuk Korban Perkosaan Mengapa Sulit Diakses?

Suara.com menuliskan artikel tentang tantangan pemberian layanan aborsi aman. Pemerintah sudah menyediakan payung hukumnya melalui PP Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi yang disahkan oleh Presiden SBY, merupakan pelaksanaan amanah Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Untuk melihat implementasinya, Suara.com mewawancarai Zumrotin K Soesilo dan Herna Lestari dari Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP).

Penyintas perkosaan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD) belum bisa mendapatkan pelayanan aborsi aman. Menurut Herna, itu disebabkan oleh belum adanya tenaga medis dan tempat yang dirujuk oleh Kemenkes. Keterbatasan itu tidak menghentikan kebutuhan perempuan terhadap layanan aborsi. Maka itu, aborsi tidak aman menjadi pilihannya, bahkan berkontribusi terhadap tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia.

“Belum lagi, banyaknya kriminalisasi terhadap pelaku aborsi dan pemberi layanan tanpa melihat alasannya. Itu kan seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah diperkosa, hamil, harus menanggung bayi yang tidak diinginkan, aborsi, dikriminalisasi pula karena tindakannya,” ungkap dia merinci.

Sebagian petugas medis dan kesehatan punya alasan kenapa mereka segan memberikan layanan tersebut. Selain nilai personal yang dianut, ada pula interpretasi sepihak dari Sumpah Hipokrates (sumpah Dokter).

Baca berita lengkapnya di sini: https://www.suara.com/health/2019/02/21/070000/layanan-aborsi-aman-dan-legal-untuk-korban-perkosaan-mengapa-sulit-diakses?page=1

YouTube Menyembunyikan Informasi Aborsi Aman

YouTube 3 kali menghapus kanal video Women on Web dan Women on Waves sepanjang 2018. Artinya, mereka menghilangkan informasi yang benar terkait aborsi aman. Ketiadaan informasi itu bisa membuat banyak perempuan beralih pada aborsi tidak aman yang malah membahayakan dirinya. Jadi, apa yang perempuan temukan ketika mencari tahu soal aborsi melalui YouTube?

April Glaser tidak banyak menemukan video aborsi aman melalui YouTube yang bisa dibaca lengkap di slate.com. Menetap di Amerika Serikat, ia menggunakan kata kunci “aborsi”. Ia malah menemukan banyak video yang menunjukkan aborsi yang terkesan berbahaya dan stigma yang melekat di dalamnya, seperti dosa dan kesalahan. Tidak terlihat video yang menampilkan informasi kemutakhiran medis terkait aborsi aman. Ia mengirimkan email kepada YouTube untuk menanyakan hal tersebut.

Sejumlah 1,8 juta orang menggunakan YouTube untuk mencari informasi setiap bulannya, April menuliskan, termasuk orang-orang yang mencari informasi tentang aborsi aman. Hasil pencarian demikian memberikan gambaran yang salah terkait aborsi. Banyak video memunculkan imaji tangan, kaki, dan bentuk wajah lengkap untuk kehamilan trimester awal. Padahal, bentuknya hanya berupa fetus. Itu seakan-akan membuat prosedur menjadi riskan komplikasi, padahal aborsi untuk kehamilan trimester pertama sangat aman. Sudah dibuktikan dalam banyak penelitian.

Kami mencoba menuliskan “aborsi” dalam YouTube di Indonesia. Hasilnya tidak jauh berbeda. Informasinya seputar stigma tanpa dilengkapi informasi medis yang valid: hanya seputar penangkapan, ceramah, dan opini yang tidak berargumentasi—bahkan dilontarkan bukan oleh perempuan. Jadi, tubuh perempuan milik siapa?

Women on Web mempunyai video mengenai informasi aborsi aman yang bisa diliat melalui kanal YouTube: Women on Web dan Women on Waves.

All about Vagina

A podcast about vagina in bahasa Indonesia

Magadelene Mind-Podcast.png

Vagina menjadi topik tabu untuk dibicarakan kebanyakan perempuan. Alih-alih menyebutkan vagina, banyak perempuan diajarkan untuk menyebut dengan perumpamaan lain, seperti “warung”. Perumpamaan itu sudah menimbulkan jarak antara perempuan dan tubuhnya sendiri, juga mendeskreditkan posisi perempuan. Apalagi, pendidikan seksualitas tidak membicarakan vagina secara apa adanya, kerap hanya sebatas fungsi reproduksinya.

Konstruksi sosial membuat perempuan tidak mengenal tubuhnya sendiri.

Dalam podcast ini, Magdalene–www.magdalene.co–mengajak Marcia Soumokil dari IPAS untuk membincangkan vagina tanpa kecanggungan. Sudah saatnya perempuan membicarakan tubuhnya sendiri tanpa malu-malu.

 

Silakan dengar obrolan lengkapnya melalui:

Gratis dan Simpatik: Perjalanan Aborsi Saya di Belanda

Cerita seorang perempuan Indonesia yang mengakses layanan aborsi aman di Den Haag, Belanda

Magdalene-Indonesia.png

Perempuan ini  hamil. Setelah mencari tahu klinik aborsi di Den Haag, dia pergi ke salah satunya. Sepertinya yang ia katakan, dia cukup beruntung karena sedang tinggal di negara yang akses terhadap layanan aborsi amannya bisa diakses oleh banyak perempuan.

Pun, itu tidak mudah baginya.

Perempuan ini lebih memilih menggunakan metode vakum dan menjelaskan bagaimana semuanya berjalan.

“Sampai hari ini, saya masih bersyukur untuk bisa mengakses layanan yang profesional dan simpatik, karena bagi orang yang melakukan aborsi, ini tidak mudah.”

Baca lengkapnya melalui: https://magdalene.co/news-1902-free-and-sympathetic-service-my-abortion-journey-in-the-netherlands.html

Gambar juga diambil dari lama yang sama (Magdalene.co).

Jaksa Meminta Penyintas Perkosaan Dihukum karena Aborsi

Perempuan berusia 15 tahun melakukan aborsi. Ia mengalami kehamilan tidak diinginkan akibat kakaknya memperkosanya. Sempet ditahan, banyak organisasi memperjuangkan haknya. Setelah dilepas, kini Jaksa menuntut untuk mengganjar hukum sebagai “pelajaran”.

The Jakarta Post meluncurkan berita soal Jaksa yang kembali menuntut penyintas perkosaan yang telah melakukan aborsi. Jaksa bilang bahwa perempuan, yang sudah kembali sekolah, bukan hanya korban perkosaan, tapi juga pelaku aborsi. Di Indonesia, aborsi hanya bisa dilakukan ketika usia kehamilan di bawah 40 hari bagi penyintas perkosaan.

Juru bicara Save Our Sistes, Zubaidah, mengatakan bahwa perempuan itu tidak bisa dituntut sebagai pelaku aborsi karena ia adalah penyintas perkosaan. Ia harus sebisa mungkin dibebaskan dari trauma. Tuntutan itu justru memperparah kondisi traumanya.

Sumber: http://www.thejakartapost.com/news/2018/09/18/prosecutors-call-for-jambi-rape-victim-to-be-punished-to-deter-abortion.html